Parenting School Daarussalaam Sangatta Dorong Perubahan Perilaku Kemandirian Siswa

Rangkaian parenting school for Darsa yang digagas Sekolah Islam (SIT) Daarussalaam Sangatta, telah melalui banyak penjabaran materi pendidikan kepengasuhan anak. Kegiatan ini bahkan telah menghadirkan dua pembicara nasional dengan diikuti hingga 1.500 orang tua siswa.

Dua narasumber yang dihadirkan pada webinar 13-21 Februari 2021, yakni seorang penulis buku sekaligus konselor keluarga dari Yogyakarta, Ustaz Cahyadi Takariawan. Juga ada Ketua Himpunan Psikologi Indonesia dari Lombok, Ustaz Lalu Yulhaidar MSi. Kedua pembicara berada dalam naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia.

Pesertanya kegiatan ini adalah orang tua siswa dari SDIT I dan SDIT II Daarussalaam Sangatta, dengan jumlah sekira 1.500 peserta. Webinar pun dibagi dalam empat sesi, yang masing-masing dilakukan sebanyak dua kali.

Dalam penyampaian materinya, Ustaz Cahyadi Takariawan mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Anak di Era Digital”. Dia menjelaskan, bahwa tugas utama seorang yang beriman adalah menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

“Tugas kita cukup menjaga apa yang bisa kita kendalikan, bukan yang di luar kendali kita. Misalnya, tontonan yang disiarkan oleh TV tidak bisa kita kendalikan, tapi kita bisa membuat kesepakan-kesepakatan yang bisa menjadi kendali kita dengan anak,” papar Ustaz Cahyadi.

“Saat ini anak kita menjalin pertemanan online dan offline, yang artinya semakin luas wilayah pertemanannya, hal ini harus menjadi warning bagi orangtua, bagaimana mengingatkan anak untuk memilih teman yang bisa mendatangkan manfaat bagi agama dan dunia,” ulasnya.

Menurut Cahyadi, sesungguhan mendidik anak adalah bermula dari sinergi ayah dan ibu dalam menentukan visi misi keluarga. Karena, pada hakikatnya, orangtua adalah yang paling berperan dalam membentuk pola anak yang terlahir fitrah, serta doa orangtua yang utama.

“Meneladani Rasulullah SAW dalam mendidik anak, seperti mengajarkan kasih sayang dan mencium anak. Namun tegas dalam hal prinsip (syariat Islam),” terangnya.

Dalam webinar yang berbeda, Ustaz Lalu Yulhaidir membahas tentang ‘learning’ adalah proses menghasilkan perkembangan. Bahwa perkembangan adalah proses perubahan bisa karena biologis, bisa karena belajar.

“Apa itu belajar?” tanya Ustaz Lalu.

“Secara umum adalah proses perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman. Untuk membentuk perilaku, perlu upaya pengulangan,” urai Lalu.

Dia juga membahas tentang bagaimana ‘negatif learning’. Hal ini perlu dikenali sehingga bisa dicegah.

Negatif learning yang dimaksud Lalu, yakni dikategorikan dalam empat prinsip.

Pertama, inkonsisten. Contohnya yakni sebuah peraturan tidak boleh nonton televisi dari waktu maghrib sampai isya.

“Kadang-kadang orang tua tidak membolehkan, tapi kadang-kadang dibolehkan, sehingga anak-anak akhirnya bingung,” ucap dia menegaskan bahwa hal itu tidak tepat.

Negatif learning berikutnya, sambung Lalu, yakni permisif indulgent, yang artinya memenangkan anak dengan cara anak menangis. Hal ini tidak dianjurkan.

Ketiga, yakni verbosity, yang artinya berulang-ulang menyampaikan pesan yang tidak penting.

“Yang keempat adalah negatif learning ‘permisif’, yaitu tidak menegakkan aturan yang telah disepakati,” paparnya.

Dia mengajak agar orang tua jangan sampai membiarkan anak melakukan perilaku yang tidak tepat, juga jarang memberikan hukuman atas pelanggaran anak.

“Hasilnya anak akan cenderung kurang matang, kurang dapat mengontrol diri, takut pada pengalaman baru, dan memiliki daya eksplorasi yang rendah,” paparnya.

Maka dari itu, Ustaz Lalu menguraikan, modal awal bagi orang tua untuk memperbaiki diri ada empat poin. Yaitu, self awareness (bangun kesadaran), menerima diri sendiri, memaafkan diri sendiri, dan mengikhlaskan.

“Untuk menghindari negatif learning ini maka kita sebagai orang tua harus bahagia mendidik dan mengasuh anak-anak kita,” ajaknya. (*)

SOURCE : Raymond Chouda – Halokaltim.com