Bagaimana Kontrol Emosi Anak di Era Digital, Ini Solusi dari Daarussalaam Sangatta

Dalam webinar parenting school lanjutan, Sabtu (6/3/21), Sekolah Islam Terpadu (SIT) Daarussalaam mengajak orang tua siswa diajak untuk mengontrol emosi anak. Terutama dalam hal penggunaan gadget.

Dalam penyampaian materinya, Ustaz Muhammad Iqbal Pb.D menjelaskan, agar orang tua selayaknya memerhatikan tingkah laku anak ketika berada di rumah maupun ketika sedang bersama temannya.

Apabila anak melakukan kesalahan atau kecanduan gadget, lanjutnya, lantas orang tua jangan spontan langsung menghardiknya. Seorang anak yang melakukan kekeliruan, selayaknya diajak berkomunikasi empat mata antara ibu dan anak, atau antara ayah dan anak.

“Kalau anak langsung dimarahi, itu malah tidak langsung menyelesaikan masalahnya. Itu hanya akan membuat anak semakin beremosi,” terang Uztaz Iqbal menjawab salah satu pertanyaan peserta.

Dia menekankan, agar seorang ibu atau ayah mampu masuk ke dalam dunia anak. Mampu membangun komunikasi yang baik dengan anak, seolah menjadi teman. Memelihara nasihat yang disampaikan kepada anak dengan memberi contoh yang benar di hadapan anak.

Contoh yang baik kepada anak, menurut Ustaz Iqbal, yakni ketika bernasihat agar disertai contoh. Ketika mengajak anak membaca Alquran, maka sangat baik bila orang tua mampu juga menunjukkan bagaimana bacaan Alquran yang baik yang sesuai dengan ajaran.

Sehingga, orang tua siswa juga mampu menyelaraskan pendidikan di sekolah Daarussalaam dengan yang ada di rumah. Sebab, rumah adalah tempat sekolah sesungguhnya juga bagi anak.

“Terpenting juga, agar orang tua jangan sampai berbohong kepada anak. Kadang masih ada orang tua siswa yang berbohong untuk memperingatkan sesuatu, tapi itu tidaklah benar,” ucapnya.

“Kalau orang tua berbohong, nanti ketika anaknya tahu itu adalah kebohongan, maka itu akan menjadi contoh yang tidak baik,” lanjutnya.

Akhir kata, Ustaz Iqbal mengajak, supaya para orang tua siswa bisa lebih giat membangun komunikasi dengan anak. Baik komunikasi dengan kata-kata, maupun secara interaksi perilaku.

“Karena, anak kita juga belajar agama di sekolah, tentu harapannya agar orang tua bisa menyesuaikan dengan apa yang diajarkan di sekolah itu bisa diterapkan juga di rumah,” harapnya. (*)

SOURCE: Raymond Chouda – Halokaltim.com